lingkarkeadilan.com | PURWOKERTO - Kemarau panjang kian melilit kehidupan warga di sejumlah wilayah Purwokerto, Kabupaten Banyumas. Memasuki pertengahan Oktober, krisis air bersih mencapai titik kritis.
Hampir tiap hari, pemandangan warga yang berdesakan dan berebut pasokan air bersih dari armada mobil tangki bantuan menjadi hal yang lazim ditemui pada Minggu (11/10/2026).
Sayangnya, distribusi bantuan dropping air tangki ini belum sepenuhnya merata. Banyak titik pemukiman terdampak yang hingga kini belum tersentuh bantuan.
Terpaksa Rogoh Kocek Lebih Dalam
Akibat pasokan dari jaringan pipa utama yang macet total, warga yang tak kebagian air tangki terpaksa memutar otak demi memenuhi kebutuhan mendasar seperti minum, memasak, hingga mencuci. Membeli air galon isi ulang kini jadi opsi darurat satu-satunya—sebuah pilihan pahit yang kian mencekik dompet dan menambah beban pengeluaran rumah tangga.
Kondisi ini memicu kekecewaan mendalam bagi para pelanggan. Djoko, salah seorang warga terdampak, menyayangkan lambatnya respons dari pihak penyedia layanan air bersih dalam mengantisipasi dampak kemarau tahunan ini.
"Tagihan bulanan selalu kami bayar tepat waktu tanpa menunggak. Tapi begitu musim kemarau datang dan butuh air, malah mati total. Harusnya kewajiban kami yang rajin bayar ini diimbangi dengan pelayanan yang tanggap," keluh Djoko dengan nada kecewa.
Warga Menagih Solusi Konkret
Bagi warga, air bersih bukan sekadar komoditas, melainkan kebutuhan dasar hidup yang tak bisa ditawar. Terus-terusan mengandalkan inisiatif mandiri atau membeli galon jelas bukan solusi jangka panjang.
Masyarakat mendesak Pemerintah Kabupaten Banyumas dan instansi penyedia air bersih untuk segera mengucurkan langkah konkret:
Perluasan Armada Distribusi: Memastikan bantuan air tangki dapat menjangkau seluruh pelosok daerah terdampak tanpa terkecuali.
Kepastian Schedule Pengiriman: Membuat jadwal pengiriman air yang jelas dan transparan agar warga tidak menanti tanpa kepastian.
Perbaikan Teknis Pasokan: Melakukan penanganan darurat pada titik gangguan pipa serta optimasi sumber air baku.
Sementara itu, pihak Perumdam Air Minum Tirta Satria Kabupaten Banyumas ketika dikonfirmasi menyampaikan mohon maaf atas ketidaknyamanan.
Direktur Teknik di Perusahaan Umum Daerah (Perumdam) Air Minum Tirta Satria Kabupaten Banyumas Wipi Supriyanto, S.T., M.I.Kom. menyampaikan bahwa dampak kemarau menyebabkan debit air baku secara umum berkurang drastis dan sangat signifikan.
"Yang berasal dari sumber mata air Kawungcarang pendistribusianya ke wilayah yang dikeluhkan warga Sidanegara, kelurahan Purwokerto Kulon" ungkapan Wipi.
Pihaknya telah berupaya menghidupkan sumur dalam cadangan, mengoptimalkan sumber air yg ada, mencari dan menambah sumber air yang ada di sekitar mata air, membagi dan pemerataan aliran dengan mengatur valve, mengganti pipa pipa yang bocor, penanganan perbaikan bocoran dengan segera dan upaya upaya lainya.
Untuk lokasi yang dikeluhkan, minggu kemarin baru selesai pekerjaan penggantian pipa dari perempatan Srimaya, Perintis Kemerdekaan sampai dengan perempatan Karangpucung.
"Karena pada jalur tersebut terdapat pipa lama ACP dan GIP yang sudah banyak titik bocor. Akibat penggantian pipa, perlu waktu untuk normalisasi aliran", tambahnya.
Pihaknya memohon untuk selalu punya tandon yang cukup, sehingga saat air mengalir bisa menampung.
"Sekali lagi mohon maaf", pungkasnya.




