![]() |
| Kegiatan Sholat Istisqa'SMA Negeri 1 Banyumas Kemarau Menguji, Istisqa Menjemput Solusi |
Momen spiritual ini terasa makin istimewa karena menjadi Salat Istisqa pertama di lingkungan satuan pendidikan Kabupaten Banyumas musim ini. Bekerja sama dengan KUA Kecamatan Banyumas dan Pengawas PAI, ibadah berlangsung khusyuk. Tata cara dilantunkan Kepala KUA Nastholih, diimami oleh Eko Widodo, serta disempurnakan lewat khutbah yang menyentuh hati oleh Siswandi.
Namun, perjumpaan di lapangan sekolah hari itu tak sekadar ritual meminta air jatuh dari langit. Ada pesan besar yang diselipkan: kesadaran ekologis berbasis iman (ekoteologi).
Lebih dari Sekadar Meminta Hujan
Pengawas PAI, Siti Nur Hidayati (Inung), menegaskan bahwa kemarau panjanglebih dari sekadar ujian alam, melainkan pengingat atas tanggung jawab moral manusia.
"Salat Istisqa merupakan ikhtiar memohon kepada Sang Pemilik Jagad Raya. Namun lebih dari itu, ini momentum membangun kesadaran bahwa manusia punya tanggung jawab moral menjaga keseimbangan lingkungan," ujar Inung.
Prinsip ekoteologi ini menekankan bahwa cinta lingkungan adalah bagian tak terpisahkan dari pemenuhan kebutuhan spiritual. Hujan adalah rahmat, tetapi merawat bumi adalah ikhtiar yang wajib dilanjutkan.
Kemarau Jadi 'Ruang Belajar' Nyata
Kepala SMAN Banyumas, Erlin Retno Viyanti, tak menampik bahwa dampak kemarau panjang mulai mengganggu kenyamanan belajar. Pasokan air terbatas, lingkungan memicu masalah kesehatan ringan, dan ruang hijau sekolah terancam.
Kendati demikian, Erlin menolak menjadikan kemarau sebagai alasan untuk pasrah. Ia berharap ketika hujan akhirnya mengguyur, semangat warga sekolah untuk menjaga lingkungan justru makin membara sebagai bentuk rasa syukur.
Tim guru PAI—Slamet, Afik Ahsanti, Fatkhatul Mar’ah, dan Kristiya Septian Putra—melihat momen ini sebagai sarana pendidikan karakter yang efektif. Isu lingkungan tak lagi cuma teori di dalam kelas, melainkan realitas yang dirasakan langsung oleh para siswa.
Di tengah lapangan yang mengering hari itu, warga SMAN Banyumas memadukan dua hal penting: iman dan aksi nyata. Hujan memang dimohonkan kepada Sang Pencipta, tetapi kelestarian bumi tetap berada di tangan manusia.




