-->
74HssqAmpAieSQYdpeY0UHJ3eJx0ro2Bjc2BCzNj
Bookmark

 


Kepala SMAN 1 Purwokerto: Yugo ke Olimpiade Internasional Tegaskan Budaya Prestasi Sekolah

Nama Yugo Deandra Wirayudha  dan Kepala SMA Negeri 1 Purwokerto, Tjaraka Tjunduk Karsadi 

Lingkar keadilan, PURWOKERTO – Nama Yugo Deandra Wirayudha kini tengah menjadi perbincangan hangat di dunia pendidikan. Alumnus SMA Negeri 1 Purwokerto asal Baturraden ini sukses mencatatkan prestasi gemilang dengan terpilih sebagai salah satu dari lima delegasi Indonesia yang akan bertanding di ajang bergengsi International Olympiad on Astronomy and Astrophysics (IOAA) di Hanoi, Vietnam, pada September mendatang.

​Langkah Yugo menuju panggung internasional bukanlah perkara mudah. Perjalanannya dimulai dari kompetisi Olimpiade Sains Nasional (OSN) tingkat kabupaten, provinsi, hingga puncaknya menyabet medali emas di tingkat nasional. Setelah melalui Pelatihan Nasional (Pelatnas) yang ketat bersama 30 medalis lainnya, Yugo berhasil lolos seleksi akhir sebagai delegasi resmi Indonesia.

​Keberhasilan Yugo mengukir prestasi di kancah global disambut bangga oleh pihak sekolah. Kepala SMA Negeri 1 Purwokerto, Tjaraka Tjunduk Karsadi, menegaskan bahwa capaian yang diraih Yugo merupakan buah dari kultur kompetisi yang sudah lama mengakar di sekolahnya.

​"Budaya prestasi level dunia itu memang ada di SMA Negeri 1 Purwokerto. Sebelumnya kita punya Jafar yang pernah maju di bidang Fisika sampai ke Kanada. Tentu saja apa yang diraih Yugo sekarang, dengan lolos mewakili Indonesia di Olimpiade Astronomi Internasional di Hanoi, merupakan posisi puncak dari banyaknya prestasi yang diraih oleh siswa-siswa kami yang lain," ujar Tjaraka Tjunduk Karsadi.

​Tidak hanya di bidang akademik seperti astronomi, Tjaraka juga membocorkan bahwa sekolahnya tengah menanti kabar gembira dari bidang lain. "Sebenarnya kalau menunggu sekitar seminggu lagi, barangkali ada berita besar untuk wilayah Banyumas. Salah satu siswa kami saat ini sedang mengikuti seleksi nasional untuk Paskibraka di Jakarta," tambahnya penuh optimisme.

​Selama mempersiapkan OSN, SMAN 1 Purwokerto memberikan dukungan penuh kepada Yugo, mulai dari dispensasi belajar hingga memfasilitasi pelatihan intensif, baik secara daring maupun luring.

​Menariknya, astronomi bukanlah cinta pertama Yugo. Saat duduk di kelas 10, ia sebenarnya lebih tertarik pada bidang Fisika. Namun, melihat ketatnya persaingan di sekolah, Yugo mengambil strategi cerdas: memilih Astronomi—bidang yang lebih jarang diminati namun tetap kental dengan unsur fisika dan hitungan numerik.

​Pilihan tersebut kian mantap berkat sosok Edgar, senior di sekolahnya yang berhasil meraih medali perunggu OSN pada tahun 2023.

​"Saya melihat kesuksesan Mas Edgar dan berpikir, aku juga harus bisa sehebat dia. Saya ingin menantang diri sendiri, sejauh mana saya bisa melangkah," kenang anak bungsu dari tiga bersaudara ini.

​Di rumah, Yugo memanfaatkan berbagai literatur digital dan perpustakaan online untuk memperdalam pengetahuannya tentang fenomena alam semesta, seperti supernova, lubang hitam (black hole), hingga bintang pulsar.

​Prestasi Yugo kian lengkap setelah ia dinyatakan lulus SNBT dan diterima di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Institut Teknologi Bandung (ITB). Meski belum resmi memulai perkuliahan, anak dari pasangan wiraswasta dan ibu rumah tangga ini sudah bercita-cita untuk terjun ke dunia penelitian dan bekerja di laboratorium.

​Kini, fokus utama Yugo adalah mempersiapkan diri menjelang keberangkatan ke Vietnam. Menghadapi ratusan peserta dari berbagai belahan dunia untuk pertama kalinya, Yugo tetap optimistis.

​"Targetnya, saya berharap bisa membawa pulang medali untuk Indonesia entah itu perunggu, perak, atau emas. Bisa mempersembahkan medali di tingkat internasional itu sudah menjadi kebanggaan yang luar biasa," pungkas Yugo. 

​Keberhasilan Yugo mengukir prestasi di kancah global disambut bangga oleh pihak sekolah. Kepala SMA Negeri 1 Purwokerto, Tjaraka Tjunduk Karsadi, menegaskan bahwa capaian yang diraih Yugo merupakan buah dari kultur kompetisi yang sudah lama mengakar di sekolahnya.

​"Budaya prestasi level dunia itu memang ada di SMA Negeri 1 Purwokerto. Sebelumnya kita punya Jafar yang pernah maju di bidang Fisika sampai ke Kanada. Tentu saja apa yang diraih Yugo sekarang, dengan lolos mewakili Indonesia di Olimpiade Astronomi Internasional di Hanoi, merupakan posisi puncak dari banyaknya prestasi yang diraih oleh siswa-siswa kami yang lain," ujar Tjaraka Tjunduk Karsadi.

​Tidak hanya di bidang akademik seperti astronomi, Tjaraka juga membocorkan bahwa sekolahnya tengah menanti kabar gembira dari bidang lain. "Sebenarnya kalau menunggu sekitar seminggu lagi, barangkali ada berita besar untuk wilayah Banyumas. Salah satu siswa kami saat ini sedang mengikuti seleksi nasional untuk Paskibraka di Jakarta," tambahnya penuh optimisme.

​Selama mempersiapkan OSN, SMAN 1 Purwokerto memberikan dukungan penuh kepada Yugo, mulai dari dispensasi belajar hingga memfasilitasi pelatihan intensif, baik secara daring maupun luring.

​Berawal dari Strategi dan Inspirasi Sang Senior

​Menariknya, astronomi bukanlah cinta pertama Yugo. Saat duduk di kelas 10, ia sebenarnya lebih tertarik pada bidang Fisika. Namun, melihat ketatnya persaingan di sekolah, Yugo mengambil strategi cerdas: memilih Astronomi—bidang yang lebih jarang diminati namun tetap kental dengan unsur fisika dan hitungan numerik.

​Pilihan tersebut kian mantap berkat sosok Edgar, senior di sekolahnya yang berhasil meraih medali perunggu OSN pada tahun 2023.

​"Saya melihat kesuksesan Mas Edgar dan berpikir, aku juga harus bisa sehebat dia. Saya ingin menantang diri sendiri, sejauh mana saya bisa melangkah," kenang anak bungsu dari tiga bersaudara ini.

​Di rumah, Yugo memanfaatkan berbagai literatur digital dan perpustakaan online untuk memperdalam pengetahuannya tentang fenomena alam semesta, seperti supernova, lubang hitam (black hole), hingga bintang pulsar.

​Menatap Masa Depan di ITB dan Target Medali

​Prestasi Yugo kian lengkap setelah ia dinyatakan lulus SNBT dan diterima di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Institut Teknologi Bandung (ITB). Meski belum resmi memulai perkuliahan, anak dari pasangan wiraswasta dan ibu rumah tangga ini sudah bercita-cita untuk terjun ke dunia penelitian dan bekerja di laboratorium.

​Kini, fokus utama Yugo adalah mempersiapkan diri menjelang keberangkatan ke Vietnam. Menghadapi ratusan peserta dari berbagai belahan dunia untuk pertama kalinya, Yugo tetap optimistis.

​"Targetnya, saya berharap bisa membawa pulang medali untuk Indonesia—entah itu perunggu, perak, atau emas. Bisa mempersembahkan medali di tingkat internasional itu sudah menjadi kebanggaan yang luar biasa," pungkas Yugo.