-->
74HssqAmpAieSQYdpeY0UHJ3eJx0ro2Bjc2BCzNj
Bookmark


 

Kisah Sangidah dan Pilihan Pahit: Saat Kayu Bakar Jadi Penyelamat di Tengah Mahalnya Elpiji

Lingkar keadilan, BANYUMAS – Aroma gas elpiji yang modern perlahan memudar dari dapur-dapur warga di Kabupaten Banyumas. Sebagai gantinya, asap putih tebal kembali mengepul dari celah genting, membawa aroma kayu terbakar yang menyesakkan dada sebuah aroma yang bukan lagi simbol tradisi, melainkan tanda keterpaksaan ekonomi.

Di sebuah sudut Kelurahan Teluk, Purwokerto Selatan, Sangidah tampak sibuk di depan tungku tanah liatnya. Tangannya yang cekatan menggeser potongan kayu agar api tetap stabil mematangkan ketan dan jadah buatannya. Bagi Sangidah, beralih ke kayu bakar bukan tentang kembali ke cita rasa tempo dulu, tapi tentang strategi bertahan hidup yang pahit.

"Masaknya memang lebih enak pakai kayu, tapi ya karena gas sekarang mahal sekali. Cari kerja susah, gaji nggak naik-naik, jadi harus pinter-pinter ngirit," keluhnya sambil menyeka peluh.

Dahulu, Sangidah sempat merasakan kemudahan memasak dengan tabung biru 12 kilogram. Namun, kenaikan harga yang terus mencekik membuatnya harus "bercerai" dengan kenyamanan itu. Kini, setiap harinya dihabiskan untuk mencari ikat-ikat kayu atau membelinya dengan harga murah, demi memastikan usahanya tetap berjalan meski pesanan tak menentu.

Fenomena "mundur ke belakang" ini bukan hanya terjadi di dapur rumah tangga, tapi juga terekam jelas di pangkalan distribusi. Di Desa Pamijen, Sokaraja, Torih Mustolih menyaksikan sendiri perubahan drastis pola konsumsi masyarakat.

Tabung-tabung biru 12 kilogram kini lebih banyak berdebu di sudut kiosnya, sementara tabung melon 3 kilogram yang bersubsidi ludes dalam sekejap.

LPG 12 Kg: Kian ditinggalkan karena harganya yang melambung.

LPG 3 Kg: Menjadi primadona dan tumpuan terakhir masyarakat menengah ke bawah.

Kayu Bakar: Menjadi alternatif pelarian bagi mereka yang bahkan sudah tak sanggup menjangkau gas subsidi atau ingin berhemat ekstrem.

Apa yang terjadi di Banyumas adalah potret mikro dari kebijakan energi makro yang menghantam akar rumput. Ketika energi non-subsidi menjadi barang mewah, masyarakat kecil tidak punya banyak pilihan selain melakukan de-modernisasi: kembali ke cara-cara lama yang lebih melelahkan namun terjangkau.

Asap tebal dari tungku Sangidah adalah sinyal keras. Di tengah narasi kemajuan zaman, masih ada warga yang harus menempuh jalan sunyi kembali ke hutan dan dahan kering hanya agar dapur mereka tetap bisa mengepulkan harapan.

Bagi mereka, kenaikan harga bukan sekadar angka di tabel statistik, melainkan beban nyata yang harus dipikul setiap kali menyalakan api.

0

Posting Komentar