lingkarkeadilan.com | PURWOKERTO - Stasiun Kutowinangun menjadi salah satu stasiun kereta api yang berperan dalam mendukung mobilitas masyarakat di wilayah Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Berada di bawah pengelolaan PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daop 5 Purwokerto, stasiun ini melayani sebanyak 17 perjalanan kereta api setiap hari menuju berbagai kota seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, hingga Banyuwangi.
Manager Humas KAI Daop 5 Purwokerto, M. As’ad Habibuddin, menyampaikan bahwa frekuensi perjalanan kereta api yang dilayani Stasiun Kutowinangun memberikan beragam pilihan transportasi bagi masyarakat untuk menunjang berbagai kebutuhan, mulai dari aktivitas pekerjaan, pendidikan, kunjungan keluarga, hingga perjalanan wisata.
“Keberadaan Stasiun Kutowinangun memiliki arti penting dalam mendukung konektivitas masyarakat, khususnya di wilayah Kebumen dan sekitarnya. Dengan layanan kereta api yang tersedia setiap hari, masyarakat memiliki alternatif transportasi yang aman, nyaman, dan efisien untuk menjangkau berbagai kota,” ujar As’ad.
Stasiun Kutowinangun merupakan bagian dari perkembangan sejarah perkeretaapian di wilayah selatan Jawa. Beroperasi sejak 20 Juli 1887, stasiun ini hadir seiring pembangunan jalur kereta api yang menghubungkan wilayah Kutoarjo dengan Kroya dan menjadi bagian penting dalam mendukung pergerakan orang maupun barang.
Pada era tersebut, kawasan sekitar stasiun juga terhubung dengan aktivitas industri gula. Sejumlah percabangan jalur kereta api pernah dimanfaatkan untuk mendukung pengangkutan hasil produksi gula dari pabrik-pabrik di sekitarnya. Seiring perubahan sistem transportasi dan perkembangan industri, jalur-jalur tersebut kemudian tidak lagi beroperasi.
Perkembangan infrastruktur perkeretaapian turut membawa perubahan bagi Stasiun Kutowinangun. Pengoperasian jalur ganda lintas selatan pada 2019 menjadi salah satu tonggak modernisasi yang meningkatkan kapasitas prasarana. Stasiun ini kini memiliki empat jalur kereta api dengan sistem persinyalan elektrik yang mendukung keselamatan dan efisiensi perjalanan.
Dari sisi kinerja, volume penumpang yang berangkat dan datang melalui Stasiun Kutowinangun menunjukkan tren pertumbuhan yang positif. Rata-rata volume penumpang per bulan pada 2025 tercatat sebanyak 3.958 penumpang. Kemudian hingga September 2026 rata-rata penumpang bulanan sebanyak 4.377 penumpang atau meningkat sebesar 10 persen.
Pertumbuhan tersebut menjadi salah satu indikator penting dalam melihat kebutuhan masyarakat terhadap layanan transportasi kereta api. KAI terus berupaya mengoptimalkan pelayanan melalui peningkatan kualitas fasilitas stasiun, kemudahan akses informasi perjalanan, serta penguatan budaya keselamatan dalam setiap aktivitas operasional.
“Kami mengapresiasi kepercayaan masyarakat yang terus menjadikan kereta api sebagai pilihan transportasi. Peningkatan kualitas layanan akan terus dilakukan agar perjalanan pelanggan semakin nyaman dan kebutuhan mobilitas masyarakat dapat terlayani dengan baik,” tambah As’ad.
Selain mendukung mobilitas harian, keberadaan Stasiun Kutowinangun juga dapat menjadi pilihan akses transportasi bagi masyarakat yang ingin menjelajahi sejumlah destinasi di sekitarnya.
Salah satu pilihan wisata yang dapat dikunjungi adalah Jlegi Fun River (JFR), destinasi wisata air yang menawarkan pengalaman rekreasi di tengah suasana alam. Bagi pengunjung yang tertarik dengan wisata pertanian, Elio Farm dapat menjadi alternatif untuk menikmati pengalaman memetik melon secara langsung.
Sementara itu, Alun-alun Kutowinangun dapat menjadi pilihan untuk bersantai dan menikmati suasana pusat aktivitas masyarakat setempat.
Keberadaan destinasi tersebut memberikan potensi bagi pengembangan wisata lokal yang dapat terhubung dengan penggunaan transportasi publik. Pelanggan yang berkunjung tetap diimbau untuk merencanakan perjalanan lanjutan dan memastikan ketersediaan transportasi menuju destinasi yang dituju.
“Kami berharap layanan kereta api dapat menjadi bagian dari perjalanan masyarakat untuk mengenal potensi daerah, termasuk destinasi wisata di Kebumen dan sekitarnya. Dengan memanfaatkan transportasi publik, masyarakat dapat merencanakan perjalanan secara lebih praktis sekaligus mendukung perkembangan ekonomi dan pariwisata lokal,” tutup As’ad.




