-->
74HssqAmpAieSQYdpeY0UHJ3eJx0ro2Bjc2BCzNj
Bookmark

 


Kemenag Banyumas Sulap Masjid Jadi 'Pabrik' Ekonomi Umat Lewat Program Mas Eko Daya

​Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Banyumas, Ibnu Asaddudin
lingkarkeadilan.com, PURWOKERTO – Paradigma pengelolaan rumah ibadah di Kabupaten Banyumas kini berubah total. Masjid tak lagi sekadar menjadi ruang ritual keagamaan, melainkan ditransformasikan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi, pendidikan, sosial, hingga pelestarian budaya lokal.

​Langkah terobosan ini digagas oleh Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Banyumas melalui program Mas Eko Daya (Masjid Berbasis Sosial, Pendidikan, Ekonomi, dan Budaya). Sebuah model pemberdayaan berbasis komunitas yang siap menggerakkan ekonomi akar rumput.

​Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Banyumas, Ibnu Asaddudin, menegaskan bahwa nilai-nilai keagamaan yang kuat harus berdampak nyata pada kesejahteraan masyarakat sekitar.

​"Kalau masyarakat beragama dengan benar, maka manfaat agama harus dirasakan dalam kehidupan sosial dan ekonomi. Masjid harus menjadi pusat pemberdayaan," tegas Ibnu.

​Ibnu juga mengkritisi paradigma lama yang terkesan kaku, seperti maraknya papan larangan bagi musafir untuk beristirahat di dalam masjid. Menurutnya, rumah ibadah justru harus ramah, terbuka, dan sigap melayani kebutuhan umat.

​4 Pilar Utama "Mas Eko Daya"

​Program inovatif ini bertumpu pada empat pilar pemberdayaan:

​Sosial: Menjadikan masjid sebagai basis aksi kemanusiaan (pembagian sembako, santunan lansia, hingga alat sekolah).

​Pendidikan: Memberikan pelatihan keterampilan bagi warga tak berpenghasilan agar bisa mandiri secara finansial.

​Ekonomi: Mendorong masjid menjadi inkubator UMKM melalui penyediaan kios, gerobak usaha, hingga unit bisnis warga.

​Budaya: Membuka diri terhadap kearifan lokal yang selaras dengan ajaran agama demi memperkuat kerukunan sosial.

​Menariknya, konsep ini tidak hanya berlaku untuk masjid, tetapi juga diadaptasi di gereja, pura, vihara, dan rumah ibadah agama lainnya di Banyumas sebagai gerakan inklusif lintas umat.

​Gebrakan ini sudah mulai dirasakan manfaatnya. Salah satunya di Masjid Nur Sulaiman, yang kini sukses mengembangkan unit usaha Z Mart berkolaborasi dengan Baznas.

​Tak hanya itu, sejumlah masjid di Banyumas mulai menyediakan fasilitas ramah pemudik/musafir, seperti tempat singgah yang nyaman hingga sajian minuman hangat gratis di pagi hari. Aktivitas ini terbukti menghidupkan ekosistem ekonomi ritel di sekitar area masjid.

​Ibnu optimistis, Banyumas bisa menjadi role model nasional dalam pengelolaan tempat ibadah yang produktif dan memberdayakan.

​"Kalau ingin belajar pengelolaan masjid yang memberdayakan masyarakat, tidak perlu jauh-jauh ke luar daerah. Banyumas siap jadi contoh," ujarnya mantap.

​Spiritualitas Berdampingan dengan Kesejahteraan

​Melalui Mas Eko Daya, Kemenag Banyumas menegaskan indikator keberhasilan rumah ibadah kini tak hanya diukur dari penuhnya saf jamaah saat shalat, tetapi juga dari seberapa besar manfaat sosial-ekonomi yang dirasakan warga sekitar.

​Integrasi antara aset keagamaan, jaringan sosial, dan pelaku UMKM ini diharapkan melahirkan ekosistem ekonomi yang berkelanjutan—sebuah simpul yang menyatukan spiritualitas, solidaritas, dan kemandirian ekonomi umat.