-->
74HssqAmpAieSQYdpeY0UHJ3eJx0ro2Bjc2BCzNj
Bookmark

 


141 Tahun Stasiun Slawi: Dari Mengangkut Hasil Bumi hingga Menggerakkan Kehidupan Masyarakat

Suasana 141 Tahun Stasiun Slawi: Dari Mengangkut Hasil Bumi hingga Menggerakkan Kehidupan Masyarakat

lingkarkeadilan.com | Purwokerto - Pagi di 141 Tahun Stasiun Slawi: Dari Mengangkut Hasil Bumi hingga Menggerakkan Kehidupan Masyarakat, selalu membawa cerita. Ada masyarakat yang berangkat bekerja, pelajar menuju sekolah atau perguruan tinggi, pedagang yang membuka peluang di kota sebelah, hingga keluarga yang bepergian untuk berbagai keperluan. Di antara aktivitas tersebut, kereta api datang dan pergi membawa satu hal yang sama: konektivitas.

Lebih dari 140 tahun setelah pertama kali beroperasi, Stasiun Slawi masih menjalankan peran tersebut. Jika dahulu menjadi bagian dari jalur pengangkutan hasil bumi seperti gula, teh, dan tembakau, kini Stasiun Slawi menjadi bagian dari mobilitas masyarakat sekaligus penggerak aktivitas ekonomi di Kabupaten Tegal bagian selatan.

“Stasiun Slawi bukan hanya tempat kereta berhenti. Di dalamnya ada perjalanan masyarakat, aktivitas ekonomi, harapan untuk bekerja dan belajar, serta koneksi dengan daerah lain. Karena itu, keberadaan stasiun memiliki arti yang jauh lebih luas bagi masyarakat,” ujar Manager Humas KAI Daop 5 Purwokerto, M. As'ad Habibuddin.

Kepercayaan Masyarakat Terus Tumbuh

Kepercayaan masyarakat terhadap kereta api tercermin dari pertumbuhan volume penumpang di Stasiun Slawi.

Rata-rata volume penumpang berangkat dan datang tercatat 16.671 orang per bulan pada 2023, meningkat menjadi 18.209 orang pada 2024, kemudian 20.904 orang pada 2025. Hingga Juli 2026, rata-rata volume tersebut kembali meningkat menjadi 23.417 orang per bulan, atau tumbuh sekitar 40 persen dibandingkan 2023.

“Pertumbuhan ini menunjukkan semakin tingginya kepercayaan masyarakat terhadap kereta api. Bagi KAI, setiap peningkatan jumlah pelanggan merupakan kepercayaan yang harus dijawab dengan pelayanan yang semakin aman, nyaman, tepat waktu, dan efisien,” kata As'ad.

Saat ini, Stasiun Slawi melayani 8 perjalanan kereta api per hari, yaitu KA Kamandaka dan KA Joglosemarkerto, yang menghubungkan masyarakat dengan sejumlah kota di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Bagi masyarakat Slawi dan sekitarnya, konektivitas tersebut memberikan akses yang lebih mudah menuju tempat kerja, pendidikan, pusat perdagangan, layanan kesehatan, hingga berbagai kebutuhan lainnya.

Dari Hasil Bumi hingga Mobilitas Masyarakat

Stasiun Slawi mulai beroperasi pada 1885 sebagai bagian dari jalur kereta api Tegal–Slawi–Prupuk. Pada masa kolonial, jalur ini berperan dalam mengangkut hasil perkebunan di sekitar Slawi, terutama gula, teh, dan tembakau, sekaligus melayani perjalanan masyarakat.

Seiring perubahan zaman, fungsi tersebut berkembang. Komoditas yang dahulu menjadi muatan utama kini berganti dengan mobilitas manusia dan berbagai aktivitas yang menyertainya.

Namun, satu hal tetap sama: Stasiun Slawi menjadi penghubung.

Stasiun Slawi juga memiliki catatan penting dalam sejarah teknologi perkeretaapian nasional sebagai stasiun pertama di Indonesia yang menggunakan sistem persinyalan elektrik buatan dalam negeri, sejak tahun 2005.

Stasiun yang Menggerakkan Ekonomi

Kehadiran penumpang turut menghidupkan aktivitas ekonomi di sekitar stasiun. Warung makan, kios, toko kelontong, pedagang makanan khas, hingga jasa ojek, becak, dan angkutan kota menjadi bagian dari ekosistem ekonomi yang tumbuh seiring mobilitas masyarakat.

Kuliner khas seperti tahu aci, kerupuk antor, dan teh poci juga menjadi bagian dari pengalaman masyarakat yang datang dan pergi melalui Stasiun Slawi.

“Stasiun merupakan bagian dari ekosistem masyarakat. Semakin baik konektivitasnya, semakin besar pula peluang masyarakat mendapatkan manfaat ekonomi dari mobilitas tersebut,” ujar As'ad.

Selain mendukung aktivitas ekonomi, Stasiun Slawi juga menjadi akses menuju berbagai destinasi di Kabupaten Tegal, seperti Wisata Alam Guci yang berjarak sekitar 30 kilometer dan Taman Rakyat Slawi Ayu (TRASA). Konektivitas tersebut turut membuka peluang bagi wisatawan dari daerah sekitar untuk mengenal potensi wisata, kuliner, dan budaya Slawi.

141 Tahun, Tetap Menjadi Penghubung

Slawi memiliki identitas budaya yang kuat, salah satunya tradisi “moci”, yakni menikmati teh yang disajikan menggunakan poci berbahan tanah liat. Tradisi tersebut menjadi bagian dari keramahan dan kearifan lokal masyarakat Tegal, sebagaimana tahu aci yang telah menjadi salah satu kuliner khas daerah.

Di tengah perubahan zaman, Stasiun Slawi tetap menjadi bagian dari denyut kehidupan masyarakat.

“Selama 141 tahun, Stasiun Slawi telah menyaksikan banyak perubahan. Dari masa ketika kereta api mengangkut hasil bumi hingga sekarang ketika kereta api mengantarkan masyarakat menuju berbagai tujuan. Perannya terus berkembang, tetapi esensinya tetap sama, yaitu menghubungkan masyarakat dan membuka akses terhadap berbagai peluang,” tutur As'ad.

KAI Daop 5 Purwokerto berkomitmen menghadirkan layanan kereta api yang selamat, nyaman, tepat waktu, dan semakin sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Bagi Stasiun Slawi, 141 tahun bukan sekadar perjalanan waktu, melainkan perjalanan ribuan orang yang datang dan pergi, bertemu peluang, membawa pulang cerita, dan ikut menggerakkan kehidupan di sekitarnya.