![]() |
| Foto: Djoko Susanto SH |
Lingkar keadilan, PURWOKERTO – Sebanyak 120 nasabah Bank Mandiri Taspen Purwokerto yang didominasi oleh para pensiunan siap menggelar aksi damai dan long march pada Jumat, 26 mendatang. Langkah ini diambil sebagai bentuk desakan terakhir setelah somasi yang dilayangkan melalui kuasa hukum mereka tidak mendapatkan tanggapan dari pihak manajemen bank.
Koordinator sekaligus Kuasa Hukum para nasabah dari Klinik Hukum Peradi SAI Purwokerto Djoko Susanto SH., menyatakan bahwa para nasabah merasa terzalimi akibat skandal kredit bermasalah yang terjadi di Mandiri Taspen Purwokerto.
"Kami sudah melayangkan somasi resmi kepada pihak Mandiri Taspen dengan tenggat waktu 3X24 jam. Namun, hingga saat ini pihak bank tetap bisu, tuli, dan terkesan menutup mata terhadap nasib para nasabah. Oleh karena itu, jangan salahkan jika kami melakukan aksi ini. Jangan tuduh kami arogan, karena Mandiri Taspen sendiri yang memulai masalah ini dan mereka harus bertanggung jawab," tegasnya Djoko, Minggu 26/6/2027) di kantornya, saat menerima desakan para pensiunan.
Aksi damai tersebut rencananya akan diisi dengan kegiatan long march atau berjalan kaki dari Klinik Hukum Peradi SAI Purwokertomenuju kantor Bank Mandiri Taspen Purwokerto guna menyuarakan hak-hak nasabah yang merasa dirugikan. Ke 120 korban tersebut dari Kluster pensiunan :
1. Guru
2. Polisi
3. TNI AD
4. Panitera PN Pwt
5. Pemda
6. Pajak
7. Kementrian Budaya
8. PU
9. Perangkat Desa
10. Karyawan Unsoed
11. RSUD Margono
12. RSUD Banyumas
13. RRI
14. Dinas Pertanian / Perkebunan
15. Mantri Pasar
16. PNS Polri
Dampak Finansial yang Mencekik Para Pensiunan
Dampak dari dugaan penggelapan dan skandal kredit ini dirasakan sangat memukul kehidupan sehari-hari para nasabah, yang mayoritas merupakan lansia dan pensiunan.
Pak Pujo (67), seorang pensiunan TNI yang hadir sebagai perwakilan nasabah, menyampaikan jeritan hati rekan-rekannya yang kini mengalami kesulitan ekonomi yang amat berat akibat pemotongan atau penahanan dana sepihak oleh bank.
"Kami seperti dibunuh pelan-pelan. Kebutuhan sehari-hari kami sudah diambil oleh Mandiri Taspen sampai tidak ada dana sepeser pun yang tersisa. Sekarang untuk bertahan hidup kami terpaksa berutang—utang beras, utang minyak, hingga diwarung-warung ditagih sana-sini. Kami merasa malu, orang luar tahunya kami punya uang pensiun, padahal kami sedang menghadapi masalah besar yang tidak bisa kami atasi sendiri," ungkap Pujo dengan nada getir.
Para nasabah menuntut agar manajemen Bank Mandiri Taspen segera memberikan kejelasan, menghentikan praktik yang merugikan, serta bertanggung jawab penuh atas dugaan penggelapan dana kredit yang menimpa para pensiunan tersebut. Aksi yang akan digelar hari Jumat 26 Juni 26 dipastikan akan tetap berjalan sebagai aksi damai demi mengetuk pintu hati dan profesionalisme jajaran pimpinan Mandiri Taspen.



