Lingkar keadilan, PURWOKERTO - Di tengah situasi ekonomi yang kian tak menentu dan menghimpit daya beli, sebuah potret keikhlasan yang luar biasa justru lahir dari pinggiran Kabupaten Banyumas. Seolah tak mau kalah dengan keadaan, jamaah dan masyarakat di sekitar Mushala Nurul Hidayah, Kelurahan Karangklesem, Kecamatan Purwokerto Selatan, membuktikan bahwa keterbatasan finansial bukan penghalang untuk berbagi.
Pada Hari Raya Idul Adha tahun ini, dengan penuh semangat gotong royong, mereka berhasil menghimpun dan menyembelih hewan kurban sebanyak 3 ekor sapi dan 5 ekor kambing.
Dari Patungan hingga Keikhlasan
Bagi masyarakat lapisan bawah, berkurban di tengah situasi sulit tentu bukan perkara mudah. Namun, kekuatan niat dan iman rupanya jauh lebih besar daripada angka-angka di dompet. Melalui sistem patungan yang konsisten dan keikhlasan yang tulus, hewan kurban tersebut akhirnya dapat terwujud.
Daging kurban yang terkumpul kemudian didistribusikan secara merata kepada sekitar 300 warga di lingkungan sekitar Mushala Nurul Hidayah. Bagi sebagian warga, momen ini menjadi sangat dinantikan di tengah melambungnya harga kebutuhan pokok saat ini.
"Ini bukan sekadar soal membagikan daging, tapi tentang bagaimana kami saling merangkul dan memastikan tidak ada tetangga kami yang kelaparan di hari kemenangan ini," ujar salah seorang panitia kurban dengan mata berkaca-kaca.
Meneladani Keimanan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail
Apa yang dilakukan oleh jamaah Mushala Nurul Hidayah ini menjadi tamparan sekaligus inspirasi bagi kita semua. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat akar rumput masih memegang teguh tali keimanan dan syariat Islam yang kuat.
Mereka benar-benar menghidupkan dan meneladani kisah legendaris Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS: sebuah simbol totalitas ketaatan, keikhlasan, dan pengorbanan tanpa pamrih kepada Sang Pencipta.
Di saat banyak orang mengeluh karena keadaan, warga Karangklesem justru memilih untuk berserah diri dan berbagi. Mereka membuktikan bahwa esensi kurban bukanlah seberapa mewah hewan yang disembelih, melainkan seberapa besar keikhlasan yang dititipkan di dalamnya.
Semoga semangat dari Mushala Nurul Hidayah ini dapat menular dan menjadi pengingat bagi kita semua, bahwa untuk menjadi penolong sesama, kita tidak harus menunggu hingga menjadi kaya.



