Lingkar Keadilan, BANYUMAS – Sebuah bangunan tua di kawasan Kota Lama Banyumas kini tak lagi tampak kaku. Bekas rumah dinas Kepala Rutan Banyumas itu telah bersalin rupa menjadi Griya Abipraya, sebuah kafe sekaligus pusat kemandirian bagi para warga binaan yang tengah menjalani masa asimilasi.
Bukan sekadar tempat nongkrong, kafe ini adalah proyek kemanusiaan hasil kolaborasi Bapas Purwokerto dan kelompok masyarakat peduli pemasyarakatan. Di sini, stigma "mantan napi" perlahan luruh, digantikan dengan aroma kopi dan semangat kerja keras.
Wahyu Baharudin, pengelola Griya Abipraya, menegaskan bahwa tempat ini dirancang untuk menyeimbangkan nilai ekonomi dan sosial.
Layanan Variatif: Mulai dari jasa cuci motor dan mobil hingga pengelolaan dapur kafe.
Misi Utama: Membuktikan kepada publik bahwa warga binaan mampu produktif, mandiri, dan memberikan pelayanan terbaik jika diberi kesempatan.
"Kami ingin mengubah cara pandang masyarakat. Mereka bukan lagi beban, melainkan individu yang siap berkontribusi," ujar Wahyu.
Selain misinya yang inspiratif, menu yang ditawarkan pun sangat kompetitif. Dengan kisaran harga Rp8.000 hingga Rp20.000, pengunjung sudah bisa menikmati hidangan lezat.
Sop daging kulit sapi ("Kultik") yang segar dan nasi goreng spesial, jadi andalan cafe di timur alun-alun kota lama Banyumas.
Di hari biasa, menu unggulan ini laku hingga 40 porsi, terutama saat cuaca dingin atau musim berbuka puasa.
Handayani, salah satu pelanggan, memberikan jempol untuk cita rasanya. "Kuahnya segar, dagingnya empuk, dan yang paling penting harganya sangat ramah di kantong," akunya.
Bagi pekerja seperti Tetuko, kafe ini adalah jembatan menuju masa depan. Berbekal pengalaman food & beverage saat merantau di Jakarta, ia kini mengasah kembali kemampuannya di dapur Griya Abipraya setelah mendapatkan status asimilasi.
"Sangat bersyukur. Selain bekerja di cucian kendaraan, saya juga bisa menyalurkan ilmu di dapur. Harapannya, nanti saya bisa punya usaha sendiri," tutur Tetuko optimis.
Kini, Griya Abipraya berdiri tegak di pusat Kota Lama sebagai bukti nyata bahwa setiap orang berhak atas kesempatan kedua. Di sana, segelas kopi bukan sekadar minuman, melainkan simbol harapan baru bagi mereka yang ingin kembali ke pelukan masyarakat.




Posting Komentar