-->
74HssqAmpAieSQYdpeY0UHJ3eJx0ro2Bjc2BCzNj
Bookmark


 

Bertahan Hidup dari Butiran Melinjo, Kisah Pilu Kakak Beradik di Pekuncen Banyumas

Lingkar keadilan, BANYUMAS – Kehidupan memprihatinkan dialami oleh dua orang kakak beradik di Dusun Karang Blimbing, Desa Pekuncen, Kecamatan Pekuncen, Kabupaten Banyumas. Tanpa penghasilan tetap, keduanya terpaksa bertahan hidup dengan mencari dan mengupas melinjo dari pekarangan warga sekitar.

​Di sebuah rumah sederhana, Karmilah dan Karminah menjalani hari-hari dengan keterbatasan yang serba minim. Tanpa pekerjaan tetap dan penghasilan pasti, keduanya menggantungkan hidup sepenuhnya dari hasil bumi yang mereka kumpulkan di pekarangan milik warga.

​Setiap harinya, Karmilah dan Karminah harus menyusuri jalan tikus yang sempit untuk sampai ke kebun melinjo. Mereka berkeliling mencari biji melinjo yang jatuh dari pohon di tanah milik orang lain demi menyambung hidup.

​Biji melinjo yang terkumpul kemudian dikupas satu per satu secara manual. Jika sudah terkumpul dalam jumlah banyak, hasil kupasan tersebut mereka jual dengan harga yang sangat murah, yakni sekitar enam ribu rupiah per kilogram.

​"Kalau ada yang nyuruh ngupasin melinjo ya saya mau. Buat kerja. Uangnya buat beli beras, beli gas, biar bisa masak," ujar Karmilah dengan suara lirih.

​Bergantung pada Uluran Tangan Tetangga

​Uang hasil penjualan melinjo tersebut hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan paling dasar, seperti membeli beras dan gas untuk memasak. Namun, pekerjaan ini tidak selalu ada. Jika tidak ada warga yang meminta jasa mengupas atau tidak ada melinjo yang bisa dicari, keduanya praktis tidak memiliki penghasilan sama sekali.

​Kondisi ini membuat mereka kerap bergantung pada kebaikan hati para tetangga. Suwarti, salah satu tetangga sekitar, mengaku merasa iba dengan keadaan kakak beradik tersebut.

​"Ya kasihan. Kalau tidak ada yang memberi apa-apa, ya tidak ada penghasilan. Kadang saya beri makanan kalau ada lebih," ungkap Suwarti.

​Menanti Perhatian Pemerintah

​Meski hidup dalam kondisi serba kekurangan, Karmilah dan Karminah dikenal sebagai sosok yang sederhana dan jarang mengeluh. Namun, warga sekitar berharap ada perhatian nyata dari pemerintah desa maupun dinas sosial.

​Masyarakat setempat berharap keduanya bisa mendapatkan bantuan rutin agar dapat menjalani kehidupan yang lebih layak. Kisah Karmilah dan Karminah menjadi potret nyata masih adanya warga yang hidup di bawah garis kesejahteraan dan sangat menanti kehadiran negara untuk sekadar memenuhi kebutuhan dasar mereka.

Posting Komentar

Posting Komentar