-->
74HssqAmpAieSQYdpeY0UHJ3eJx0ro2Bjc2BCzNj
Bookmark


 

Mendesak! Usulan Badan Nasional Rempah di Bawah Presiden

Lingkar Keadilan, BANYUMAS – Dunia kesehatan global saat ini dinilai tengah terbelah. Prof. Yudhie Haryono, PhD menyebut adanya jurang besar antara pengobatan Barat berbasis kimia dengan pengobatan Timur yang berakar pada tradisi herbal Nusantara.

​Dalam diskusi bedah buku "Manifesto Herbal dan Rempah Indonesia" di Purwokerto, Senin (29/12/2025), Prof. Yudhie melontarkan kritik tajam terhadap industri kesehatan modern.

​1. Kritik Terhadap "Industri Penyakit"

Menurutnya, pengobatan Barat cenderung menjadi industri yang tidak berorientasi pada penyembuhan total. "Pasien tidak benar-benar disembuhkan, tetapi dikelola agar terus kembali. Ini menciptakan ketergantungan," tegasnya. Sebaliknya, ia memperkenalkan konsep "Efek Depan" dari herbal Timur, yaitu memperkuat daya tahan tubuh agar penyakit mati dengan sendirinya.

​2. Potensi Ekonomi yang Fantastis

Bukan sekadar soal kesehatan, rempah adalah kekuatan ekonomi raksasa yang belum digarap serius. Prof. Yudhie memaparkan angka yang mencengangkan:

​Rp600 Triliun: Perputaran uang sektor rempah per tahun.
​Rp120 Triliun: Potensi kontribusi langsung ke APBN.
​Rp2.600 Triliun: Nilai total jika sektor turunan, ekspor, dan impor dikelola secara menyeluruh.
​3. Desakan Membentuk Badan Nasional

Melihat angka tersebut, Prof. Yudhie mengusulkan agar Presiden segera membentuk Badan Nasional Rempah dan Herbal Indonesia. Badan ini diharapkan menjadi motor integrasi kebijakan agar rempah menjadi alat diplomasi sekaligus kekuatan ekonomi nasional.

​"Jalur rempah adalah jalur tertua yang berbasis keadilan. Sudah saatnya negara mengelola ini secara serius, bukan sekadar sebagai komoditas, tapi sebagai kekuatan peradaban," pungkasnya.
0

Posting Komentar