![]() |
| Ketua Paguyuban Bank Street (BST), Ardy Susanto. |
Salah seorang pedagang mie ayam dan bakso yang telah berjualan selama 4 tahun di kawasan tersebut, Luzi Nugroho, mengungkapkan kekhawatiran mendalam jika ratusan pedagang dengan jenis dagangan serupa dipusatkan di satu titik yang sama.
"Harapan kami kalau bisa diajak diskusi dulu, jangan tahu-tahu ada berita mau dipindah ke Kolam Retensi semua. Apalagi 90 persen jualannya sama. Bisa dibayangkan dengan jumlah pedagang sebanyak itu dan jenis dagangan yang sama, kita mau bagaimana?" ujar Luzi Nugroho, Sabtu (4/9).
Luzi menambahkan, omset harian para pedagang berkisar antara Rp1 juta hingga Rp1,5 juta per hari semata-mata digunakan untuk menyambung hidup keluarga, bukan mencari kekayaan. Ia berharap Pemkab Banyumas dapat duduk bersama pedagang guna mencari solusi terbaik (win-win solution) agar tata ruang kota tetap tertata tanpa mengorbankan penghasilan pedagang.
"Kami sadar melanggar Perda kalau memakai trotoar, tapi lapak kami sebenarnya di luar trotoar. Setidaknya kalau masyarakat bisa mandiri tanpa merepotkan Pemda, itu sudah membantu. Jangan sampai relokasi ini justru menimbulkan masalah baru," tegas Luzi.
Soroti Kualitas Tempat dan Data Pedagang
Sebelumnya, penolakan senada juga disuarakan oleh Ketua Paguyuban Bank Street (BST), Ardy Susanto. Ia mengkritik keras wacana penggunaan fasilitas tenda untuk menampung ratusan pedagang di area Kolam Retensi karena dinilai tidak ramah cuaca dan justru berpotensi merusak estetika kawasan.
"Kalau direlokasikan pakai tenda, bagaimana kalau musim hujan? Supaya hujan enggak kehujanan, panas enggak kepanasan. Lah kalau pakai tenda, apakah itu menjadi keindahan untuk Kolam Retensi? Malah akan jadi kumuh," kata Ardy Susanto.
Ardy juga menyebutkan adanya simpang siur data mengenai jumlah pedagang yang terdampak, serta menyinggung legalitas pengerjaan lahan eks-Bengkok Gedungmulyo yang dikelola swadaya oleh kelompoknya namun terus diusik oleh oknum dinas.
Dinperindag: Penataan Masih Sebatas Rancangan Awal
Menanggapi keluhan dan kekhawatiran pedagang, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Dinperindag) Kabupaten Banyumas, Gatot Eko Purwadi, menegaskan bahwa rencana relokasi tersebut masih sebatas draf rancangan teknis bersama Dinas Pekerjaan Umum (DPU) dan lintas OPD.
Gatot memastikan pemerintah daerah tidak akan menumpuk seluruh 565 PKL di satu tempat saja, melainkan menyebarkannya ke beberapa zona penataan.
"Tidak semuanya ditempatkan dalam satu titik. Rencananya ada sebaran: 200 pedagang di Kolam Retensi, sekitar 104 pedagang di kompleks lahan Pemda yang dikelola Ardy Susanto, serta pemanfaatan 40 unit bedeng di sisi timur yang akan dirapikan kembali aksesnya oleh DPU," terang Gatot.
Gatot juga menjelaskan bahwa ukuran lapak 2x3 meter yang dirancang DPU dimaksudkan khusus sebagai area pengolahan/dapur makanan, sedangkan area tempat duduk pengunjung berada di luar area dapur.
Ia berjanji bahwa Pemkab Banyumas akan melibatkan seluruh dari delapan paguyuban pedagang sebelum keputusan final dieksekusi.
"Setelah semua konsep dari pemerintah ini matang dan clear, baru kita ngobrol dan sosialisasikan ke teman-teman paguyuban untuk menampung masukan. Prinsipnya tidak ada pihak yang dirugikan," tutup Gatot.




