-->
74HssqAmpAieSQYdpeY0UHJ3eJx0ro2Bjc2BCzNj
Bookmark


 

Hari Ibu: Pemulihan Peran Perempuan dan Hubungan Keluarga di Rutan Banyumas


Lingkar Keadilan, BANYUMAS - Peringatan Hari Ibu di Rutan Kelas IIB Banyumas tahun ini tidak difokuskan pada seremoni, melainkan diarahkan sebagai ruang refleksi bagi para petugas perempuan pemasyarakatan dan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) untuk kembali memaknai peran perempuan, kasih sayang seorang ibu, serta kesempatan memperbaiki hubungan keluarga.


Para petugas perempuan di lingkungan Rutan Banyumas didorong untuk menghadirkan sentuhan empati dalam pelayanan, sementara WBP—khususnya perempuan—diajak melakukan refleksi pribadi mengenai peran ibu dalam hidup mereka atau peran mereka sendiri sebagai seorang ibu.

Kasubsi Pelayanan Tahanan, Cakra Citra Sari, menyampaikan bahwa Hari Ibu merupakan pengingat akan fondasi kasih, ketulusan, dan keteladanan.

“Nilai ketulusan dan kekuatan seorang ibu diharapkan menjadi inspirasi bagi WBP untuk memperbaiki diri, menumbuhkan empati, serta membangun kembali hubungan keluarga sebagai bekal reintegrasi sosial,” ujarnya.

Senada dengan itu, Kepala Rutan Banyumas, Anggi Febiakto, menekankan nilai strategis peringatan Hari Ibu dalam proses pembinaan.

“Kami ingin memperkuat penghormatan terhadap perempuan dan memotivasi WBP menjalani pembinaan dengan lebih baik. Perempuan memiliki peran penting dalam keluarga, dan kegiatan ini menjadi ruang pemulihan diri serta pemulihan relasi sosial,” ungkapnya.

Selain refleksi, kegiatan dilanjutkan dengan sesi sharing circle bersama petugas perempuan, membahas ketahanan mental, makna ketulusan, dan dukungan sesama;sesi motivasi singkat tentang peran perempuan pasca-pembinaan, termasuk kesiapan kembali ke masyarakat.

Salah satu WBP perempuan, Melati (35) /bukan nama sebenarnya yang mengikuti kegiatan ini mengaku terharu:

“Saya salah, tapi saya ingin pulang dalam keadaan berbeda. Ingatan tentang ibu saya yang sabar membuat saya kuat menjalani pembinaan,” ungkap R, sambil menulis surat untuk ibunya.

WBP lainnya, Mawar bukan nama sebenarnya (40) bahkan mengakui momentum ini membuatnya kembali optimistis sebagai seorang ibu.

“Saya ingin membuktikan kepada anak bahwa ibu bisa berubah dan kembali jadi pelindung, bukan beban,” tuturnya.

Momentum ini dimanfaatkan sebagai bentuk pemulihan relasi antara WBP dan keluarga. Rutan Banyumas memfasilitasi komunikasi keluarga, memberikan ruang konseling singkat, serta memperkuat nilai penghormatan terhadap perempuan sebagai bagian dari pembinaan karakter.

Kegiatan ini juga mendorong WBP agar berani membuka dialog emosional, memohon maaf, serta memperbaiki hubungan sebelum kembali menjalani reintegrasi sosial.

Peringatan Hari Ibu di Rutan Banyumas menegaskan bahwa pemasyarakatan bukan hanya soal menjalani hukuman, tetapi memanusiakan, menyembuhkan, dan mengembalikan harapan.

Dari balik jeruji, perempuan kembali belajar memeluk nilai kasih, ketulusan, dan pengorbanan—sebuah kekuatan yang mampu membuka jalan pulang bagi keluarga dan masa depan.

Dengan pendekatan humanis ini, Rutan Kelas IIB Banyumas berkomitmen menjadikan pembinaan bukan sekadar kewajiban negara, tetapi ruang tumbuh bagi perempuan untuk kembali pulang sebagai pribadi yang siap memulai babak baru.

Posting Komentar

Posting Komentar