-->
74HssqAmpAieSQYdpeY0UHJ3eJx0ro2Bjc2BCzNj
Bookmark


 

Nestapa "Chong" dan Esensi Sejati Mengabdi di SMANSA Purwokerto

Lingkar keadilan, PURWOKERTO – Di balik riuh rendah rencana pemilihan Ketua dan Pengurus Alumni SMA Negeri 1 (SMANSA) Purwokerto, terselip sebuah potret kehidupan yang kontras dengan gemerlap ajang "pamer" jabatan atau kekayaan yang kerap mewarnai pertemuan alumni.

​Adalah Hery, atau yang lebih akrab disapa "Chong" oleh rekan angkatan 1990. Pria yang dulu menghabiskan masa sekolahnya di kelas 3 Sos ini kini menjalani masa tua yang jauh dari kata mapan. Di usia 55 tahun, saat banyak rekan sejawatnya mungkin telah menikmati masa pensiun yang nyaman, Chong masih harus bergelut dengan kerasnya jalanan sebagai buruh harian lepas.

​Potret Ironis di Balik Seragam Almamater

Bagi Chong, memikirkan tempat tinggal tetap adalah sebuah kemewahan yang tak terjangkau. Fokus utamanya setiap hari hanyalah bagaimana ia dan ibunya bisa makan. Tak jarang, ia terlihat menyambangi Klinik Hukum Peradi SAI Purwokerto, bukan untuk urusan legal, melainkan sekadar berharap bantuan beras atau sesuap nasi demi menyambung hidup.

​Pemandangan Chong yang berjalan menyusuri terik matahari ditemani sang ibu menjadi pengingat pahit bagi siapa pun yang melihatnya. Ia tidak sedang mengejar kekayaan; ia hanya sedang bertahan hidup.

​Harapan untuk Pengurus Baru

Realita ini memicu refleksi mendalam di kalangan alumni. Mengabdi kepada sesama lulusan SMANSA sejatinya tidak harus melalui struktur organisasi yang kaku atau jabatan mentereng sebagai pengurus.

​Muncul harapan besar agar siapa pun yang nantinya terpilih memimpin ikatan alumni, tidak sekadar menjadikan organisasi sebagai panggung seremonial. Pengurus baru diharapkan mampu:

​Memetakan Kondisi Alumni: Menjangkau rekan-rekan yang nasibnya kurang beruntung seperti Chong.

​Mendorong Kemandirian: Menciptakan program yang mampu membuat alumni berdikari (berdiri di atas kaki sendiri).

​Solidaritas Tanpa Belas Kasihan: Membangun sistem dukungan yang memberdayakan, sehingga tidak ada lagi alumni yang harus hidup hanya dari belas kasihan teman-temannya.

​Kisah Chong adalah cermin bagi seluruh alumni SMANSA Purwokerto. Bahwa pengabdian sejati adalah ketika mereka yang berada di atas, bersedia menunduk untuk mengangkat martabat rekan mereka yang masih berada di bawah.

Posting Komentar

Posting Komentar