Lingkar keadilan, PURWOKERTO - Waktwu boleh berlalu dan generasi boleh berganti, namun cinta terhadap almamater tetap bersemi. Di tengah kebijakan pendidikan yang menghapus sekat "sekolah favorit", SMA Negeri 1 Purwokerto memilih untuk mendefinisikan kembali identitasnya: bukan sekadar gedung sekolah, melainkan rumah yang merawat kenangan dan harapan.
Perubahan sistem Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) telah membawa wajah baru bagi dunia pendidikan.
Kepala SMA Negeri 1 Purwokerto, Tjaraka Tjunduk Karsadi memandang kebijakan ini sebagai langkah strategis menuju pemerataan kualitas.
"Jalur prestasi yang dahulu menjadi primadona, kini dialokasikan sebesar 30 persen saja. Selebihnya, pintu sekolah terbuka bagi jalur afirmasi, zonasi, serta perpindahan tugas orang tua". ungkap Kepala SMA Negeri 1 Purwokerto, Tjaraka Tjunduk Karsadi, Jum'at (37/3/2026) disela kegiatan reuni lintas generasi SMA Negeri 1 Purwokerto.
Menurut Tjaraka, setiap sekolah kini dituntut untuk menjadi “favorit” dengan keunikan dan keunggulannya masing-masing. Di balik angka-angka regulasi tersebut, tersimpan narasi yang lebih humanis. Ruang kelas kini menjadi titik temu bagi beragam latar belakang, menyatukan mimpi yang berbeda di bawah satu atap yang sama.
"Sekolah tak lagi sekadar menjadi panggung bagi mereka yang unggul secara akademik, tetapi telah bertransformasi menjadi ruang tumbuh bersama dalam keberagaman", ungkapanya.
Menariknya, kata Tjaraka, di tengah arus perubahan sistem ini, SMA Negeri 1 Purwokerto tetap teguh menjaga satu hal yang tak tergantikan: ikatan emosional.
Melalui ajang temu alumni lintas generasi, sekolah menghadirkan kembali sosok-sosok yang pernah mengisi lorong-lorong kenangan. Tawa dan haru berpadu saat para alumni kembali menapaki halaman sekolah.
"Dari mereka yang telah sepuh hingga lulusan baru, semuanya dipersatukan oleh satu rasa: kerinduan yang mendalam pada almamater", Tjaraka.
Kehadiran para guru, baik yang masih aktif maupun purna tugas, semakin melengkapi suasana. Pertemuan ini bukan sekadar silaturahmi formal, melainkan perayaan atas perjalanan panjang yang telah ditempuh bersama. Dalam kehangatan itu, berbagai kisah mengalir tentang nostalgia masa muda, getirnya perjuangan, hingga mimpi-mimpi yang kini telah membuahkan hasil. Bagi siswa yang masih menimba ilmu, kehadiran para senior ini adalah cermin masa depan; sebuah bukti bahwa dari bangku kelas yang sederhana, jalan hidup dapat terbentang sangat luas.
Pihak sekolah meyakini bahwa kekuatan sebuah almamater tidak hanya bersandar pada sistem atau deretan prestasi, tetapi pada kokohnya hubungan antarmanusia di dalamnya. Ikatan inilah yang menjaga semangat sekolah tetap hidup, melampaui perubahan zaman dan regulasi.
Ke depan, SMA Negeri 1 Purwokerto berharap tradisi ini terus menjadi jembatan antargenerasi. Sebab pada akhirnya, sekolah bukan hanya tentang tempat belajar, melainkan tentang tempat untuk "pulang" sebuah muara di mana kenangan, harapan, dan kecintaan terhadap ilmu akan selalu menemukan jalannya untuk kembali.
Salah satu alumni angkatan 1991, Djoko Susanto, menilai ikatan alumni memiliki peran penting dalam mendukung perkembangan sekolah.
“Sekolah ini bukan hanya tempat belajar, tapi juga membentuk karakter. Reuni seperti ini penting untuk menjaga jejaring dan memberi motivasi bagi adik-adik yang masih sekolah,” kata Djoko yang kini berprofesi sebagai Advokat kondang sekaligus ketua peradi sai Purwokerto.
Djoko menambahkan, para alumni diharapkan dapat berkontribusi nyata, baik melalui pengalaman, jejaring profesional, maupun dukungan terhadap kegiatan sekolah.





Posting Komentar